The Owner of the Land

Saat sedang berhenti membenahi tas yang sedikit menggantung dipundak, saya mendengar suara pelan disebelah, "do you have a dollar, mate?" spontan saya hendak menjawab "I'm sorry". Tapi saat mata saya melihat siapa yang berbicara, saya mengurungkan niat saya. " I think I have one" disaat mengambil dompet disaku ia berbicara ia sudah sekian lama tidak minum alkohol, dia juga bilang ia tinggal didaerah sekitar sini. Saya mendengarkan sambil merogoh-rogoh uang receh didompet. sembari pikiran mengembara kemana-mana, saya katakan pada diri saya sendiri, "this is him....the owner of the land"

Beberapa kali dengar cerita tentang penghuni asli benua Australia ini. Sering juga sebenarnya melihat di beberapa daerah dikota Brisbane. Tapi baru kali ini bertatapan dan berbicara langsung dengan mereka. Tidak sempat ngobrol banyak, karena begitu saya koin satu dolaran itu saya sodorkan, dia langsung pergi sambil sebelumnya bilang sesuatu yang saya kurang paham betul maksudnya.

Didalam bis menuju rumah, saya terus terbayang sosok orang tadi. Saya membayangkan seandainya saya yang sedang tinggal di Surabaya, atau dikota manapun di Indonesia, tapi kami minoritas disana. Minoritas dari sisi jumlah, kasta, dan ekonomi. Merasa dirumah yang bukan lagi rumah sendiri.

Sesampai dirumah saya tertarik untuk membaca beberapa kisah orang aborigin ini, termasuk salah satu cerita yang berkisah tentang the Stolen Generation, dan beberapa tradisi kaum aborigin, seperti walkabout.

Melihat, membaca, mendengar dan pengalaman berbicara langsung dengan penghuni asli negara ini, setidaknya membuat kita (atau diri saya sendiri) untuk berefleksi dan lebih menghargai siapa sebenernya warga asli negara yang sedang saya tinggali.

Comments

Popular posts from this blog

Surabaya, surga bagi para pengiklan (rokok)

Movie World: wahana untuk keluarga!!

We actually know very little