Pasukan berani mati
Pagi ini membaca Kompas dan lagi-lagi mendapatkan sebuah berita yang cukup membuat prihatin. Kali ini berita pertikaian antar warga yang terjadi di Lampung Selatan. Pertikaian yang diduga melibatkan unsur SARA antara warga asli dan warga pendatang. Dikatakan penyebab tawuran tersebut sangat sepele, seorang remaja yang sedang meraung-raungkan motornya tersinggung karena ditegur oleh pemuda lain. Perkelahian pun terjadi. Pasca perkelahian sekelompok pemuda yang terlibat dalam perkelahian tersebut mendatangi desa lawan kelahinya dan melempari rumah warga desa tersebut dengan bom molotov. Tak terima dengan perlakuan tersebut, warga dan kali ini dibantu dengan dibantu beberapa desa tetangga. Amuk massa tak terelakkan, dan terdengarlah oleh kita tragedi tersebut: rumah dibakar, desa hancur, dan warga desa mengungsi.
Seringkali berita tawuran antar desa kita dengar dan kita baca dari media massa dan kerap tawuran tersebut diawali dengan pertikaian antar individu. Yang menarik perhatian adalah bagaimana masyarakat ditempat2 tersebut mempunyai solidaritas yang tinggi dan dengan jiwa berapi-api menyerbu warga lain meski mungkin mereka sendiri tak jelas akar permasalahan. Sing penting tawuran. Yang kami tahu teman kami diejek, dilecehkan. Mengejek teman sama dengan mengejek kami, warga kami, desa kami, harga diri kami.
Kalau sudah berbicara tentang harga, apalagi harga diri maka manusia Indonesia langsung berubah menjadi pasukan berani mati. Apapun yang tampak didepan mata diganyang, ditendang, lalu dibakar.
Apakah semua masyarakat kita seperti itu? Jawaban saya adalah tidak. Perkelahian dan pertikaian kerap terjadi dan bisa terjadi dimana saja, termasuk dikampung saya dulu, disebuah pemukiman padat penduduk didaerah Dinoyo, Surabaya. Beberapa kali warga di RT kami bentrok dengan RT lain. Dan yang masih teringat jelas adalah saat ada adu merpati. Masih saya ingat dengan jelas saat warga dikampung kami adu merpati dengan warga sebelah. Saat salah satu dari mereka berbuat curang, warga RT kami langsung mendatangi warga sebelah dan mendatangi orang yang curang tersebut. yang berlanjut dengan perkelahian massal karena memang adu merpati diikuti oleh sekelompok warga. Selesai berkelahi warga kami kembali kekampung. Namun dikampung warga berjaga-jaga akan adanya serangan balasan. Dan itu memang terjadi. Warga sebelah mendatangi kampung kami. Namun meski mereka datang dengan beragam senjata tajam mereka tak serta merta menjadi pasukan babi buta. Satu dari mereka yang mereka segani mendatangi ketua RT kami. Berbicara dengan tenang beberapa saat, sampai akhirnya tokoh masyarakat tersebut dapat mendamaikan suasana dan warga kampung sebelah pulang dengan tenang. Tawuran susulan dapat dihindarkan.
Mengingat ini semua ada sedikit bangga dihati. Masyarakat Surabaya dikenal kasar, keras dan tak tahu sopan santun (katanya begitu). Namun apabila kita melihat perkembangan yang terjadi belakangan ini dimana amuk massa kerap terjadi, justru diSurabaya hal itu hampir tak pernah terjadi. Saya sendiri sebagai warga Surabaya juga heran, dan sekaligus bangga. Kami memang cenderung to the point dalam hal bicara, langsung, dan ini bisa jadi menyinggung dihati bagi orang yang belum tahu karakter masyarakat Surabaya, tapi justru karena segala sesuatu disampaikan secara langsung maka tak ada dendam tersisa dihati. Urusan kalau sudah selesai ya sudah tak perlu disinggung lagi. Bahkan kalaupun perkelahian sempat terjadi, masyarakat cenderung bisa menahan diri utk tidak tawuran massal. Berkelahi satu lawan satu kerap terjadi, tapi tak pernah sampai amuk massa. Ini karena antar pihak bisa menahan diri. Bahkan ada satu pepatah yang sering diucap warga Surabaya, hati boleh panas tapi kepala tetap dingin ;)
Seringkali berita tawuran antar desa kita dengar dan kita baca dari media massa dan kerap tawuran tersebut diawali dengan pertikaian antar individu. Yang menarik perhatian adalah bagaimana masyarakat ditempat2 tersebut mempunyai solidaritas yang tinggi dan dengan jiwa berapi-api menyerbu warga lain meski mungkin mereka sendiri tak jelas akar permasalahan. Sing penting tawuran. Yang kami tahu teman kami diejek, dilecehkan. Mengejek teman sama dengan mengejek kami, warga kami, desa kami, harga diri kami.
Kalau sudah berbicara tentang harga, apalagi harga diri maka manusia Indonesia langsung berubah menjadi pasukan berani mati. Apapun yang tampak didepan mata diganyang, ditendang, lalu dibakar.
Apakah semua masyarakat kita seperti itu? Jawaban saya adalah tidak. Perkelahian dan pertikaian kerap terjadi dan bisa terjadi dimana saja, termasuk dikampung saya dulu, disebuah pemukiman padat penduduk didaerah Dinoyo, Surabaya. Beberapa kali warga di RT kami bentrok dengan RT lain. Dan yang masih teringat jelas adalah saat ada adu merpati. Masih saya ingat dengan jelas saat warga dikampung kami adu merpati dengan warga sebelah. Saat salah satu dari mereka berbuat curang, warga RT kami langsung mendatangi warga sebelah dan mendatangi orang yang curang tersebut. yang berlanjut dengan perkelahian massal karena memang adu merpati diikuti oleh sekelompok warga. Selesai berkelahi warga kami kembali kekampung. Namun dikampung warga berjaga-jaga akan adanya serangan balasan. Dan itu memang terjadi. Warga sebelah mendatangi kampung kami. Namun meski mereka datang dengan beragam senjata tajam mereka tak serta merta menjadi pasukan babi buta. Satu dari mereka yang mereka segani mendatangi ketua RT kami. Berbicara dengan tenang beberapa saat, sampai akhirnya tokoh masyarakat tersebut dapat mendamaikan suasana dan warga kampung sebelah pulang dengan tenang. Tawuran susulan dapat dihindarkan.
Mengingat ini semua ada sedikit bangga dihati. Masyarakat Surabaya dikenal kasar, keras dan tak tahu sopan santun (katanya begitu). Namun apabila kita melihat perkembangan yang terjadi belakangan ini dimana amuk massa kerap terjadi, justru diSurabaya hal itu hampir tak pernah terjadi. Saya sendiri sebagai warga Surabaya juga heran, dan sekaligus bangga. Kami memang cenderung to the point dalam hal bicara, langsung, dan ini bisa jadi menyinggung dihati bagi orang yang belum tahu karakter masyarakat Surabaya, tapi justru karena segala sesuatu disampaikan secara langsung maka tak ada dendam tersisa dihati. Urusan kalau sudah selesai ya sudah tak perlu disinggung lagi. Bahkan kalaupun perkelahian sempat terjadi, masyarakat cenderung bisa menahan diri utk tidak tawuran massal. Berkelahi satu lawan satu kerap terjadi, tapi tak pernah sampai amuk massa. Ini karena antar pihak bisa menahan diri. Bahkan ada satu pepatah yang sering diucap warga Surabaya, hati boleh panas tapi kepala tetap dingin ;)
Comments